• Blog Stats

    • 11,462 hits

Presiden RI th 2014 bukan dari Partai Demokrat?

Kegelisahan di Internal Demokrat soal Pengganti SBY Sulit Ditutupi
Belum Muncul Kader Sekelas sang Pendiri

SBY merasa tidak enak dengan ulah kadernya, Ruhut Sitompul, yang mengusulkan dirinya bisa menjadi presiden tiga periode. SBY pun langsung mendeklarasikan bahwa dirinya sudah pasti pensiun pada 2014. Siapa putra mahkotanya?

Wacana Ruhut itu seperti bensin menyiram api. Dari luar Partai Demokrat timbul kritik keras. Di internal partai berlambang segitiga Mercy itu menimbulkan kemarahan para elite. Mulai SBY sebagai ketua dewan pembina hingga Ketua Umum Anas Urbaningrum langsung menegur mantan pengacara nyentrik itu.

Namun, di sisi lain, sulutan Ruhut menggambarkan bahwa mereka semakin sadar untuk segera mungkin menyiapkan kader. Harus ada capres yang bisa menjadi magnet, paling tidak mendekati karisma SBY.

Kendati Pilpres 2014 kurang empat tahun lagi, kegelisahan di internal Demokrat soal sosok pengganti SBY sulit ditutupi. Memang sudah mulai muncul tokoh, namun belum ada yang menandingi SBY. Bayang-bayang ketua dewan pembina partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2009 itu tetap sulit dilepaskan.

Tokoh yang kini mulai muncul, sebut saja nama Ketua Umum DPP Anas Urbaningrum, Wakil Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua DPR Marzuki Alie, Sekjen sekaligus Putra SBY Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Sekretaris Dewan Pembina sekaligus Menpora Andi Mallarangeng, tentu belum bisa disejajarkan dengan SBY. Di internal Demokrat, mereka semua masih suboordinasi dari presiden yang sedang menjalani periode keduanya tersebut.

Demikian juga, sejumlah tokoh di luar struktur, namun masih berada di sekitar lingkaran partai, bernasib sama. Misalnya, Ibu Negara Ani Yudhoyono maupun mantan Ketua Tim Sukses SBY-Boediono Marsekal (pur) Djoko Suyanto. Popularitas maupun pengaruh mereka belum sebesar SBY saat ini.

Karena hal itu pula, di sisi lain usul kontroversial Ruhut untuk menambah masa jabatan presiden yang sudah diatur konstitusi akhirnya bisa dipahami. Yaitu, kegamangan seorang kader partai menghadapi Pemilu 2014. Apalagi, di luar Partai Demokrat, nama-nama besar seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, dan Wiranto bisa jadi sudah mulai bersiap menghadapi ajang pergantian kepemimpinan lima tahunan itu.

Meski demikian, Anas Urbaningrum masih berusaha menutupi bahwa usul Ruhut tersebut merupakan ekspresi kekhawatiran menghadapi Pemilu 2014. ”Bukan, itu bukan bentuk ketakutan karena tidak ada sosok selain SBY,” kelit Anas.

Menurut dia, tidak ada alasan Demokrat pesimistis dalam menghadapi Pemilu 2014. Dia menyatakan, tabungan politik yang dimiliki partai yang kini dipimpinnya itu sudah sangat besar. Salah satu di antaranya, jumlah legislatif yang besar hasil Pemilu 2009 di tingkat nasional dan lokal.

Besarnya jumlah legislator yang berfungsi maksimal di DPR, termasuk kader yang duduk di pemerintahan, diyakini akan mampu menjadi insentif electoral. ”Jadi, konsentrasinya jangan siapanya dulu, tapi bagaimana memaksimalkan kinerja lebih dulu,” tandasnya.

Karena itu, Anas menegaskan bahwa partainya sudah berketetapan hati akan membahas persoalan Pemilu-Pilpres 2014 mulai 2013. ”Rakyat jangan terus disuguhi wacana pemilu. Nanti rakyat bosan dengan pemilu,” ujarnya.

Tapi, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Max Sopacua menjelaskan, proses kaderisasi pasca SBY di internal partai terus berjalan hingga kini. Tongkat estafet kepemimpinan nasional di internal Demokrat terus jalan. ”Tidak ada kekhawatiran sama sekali dari kami menatap masa depan,” tegas Max.

Menurut dia, sosok-sosok seperti Anas Urbaningrum, Marzuki Alie, Andi Mallarangeng, dan sejumlah kader Demokrat lainnya sangat layak diproyeksikan untuk menggantikan SBY. ”Tapi, biarlah semua itu berjalan secara alamiah, tidak untuk dibicarakan sekarang,” tandasnya.

Tokoh-tokoh di atas memang telah memiliki panggung untuk dimanfaatkan untuk membesarkan diri masing-masing secara politik. Anas, misalnya, sebagai ketua umum tentu punya kesempatan lebih banyak bersentuhan dengan kader partai maupun masyarakat umum dalam menjalankan tugasnya. Begitu pula Marzuki Alie ataupun Andi Mallarangeng yang termasuk pejabat publik. Tak terkecuali, Ani Yudhoyono yang juga bisa memainkan peran sebagai ibu negara.

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi melihat, saat ini sudah muncul faksi-faksi di internal Demokrat yang masing-masing punya agenda. Ada faksi yang mendukung Anas. ”Ada faksi yang mendukung Ani Yudhoyono sebagai capres, misalnya Hayono Isman,” ingat Burhan -panggilan akrab Burhanudin Muhtadi. Di luar itu, lanjut Burhan, ada kubu Jurnal Nasional atau Jurnas -harian terbitan Jakarta yang belakangan mengisyaratkan dukungan terhadap Agus Harimurti Yudhoyono. Jurnas merupakan media yang cenderung berafiliasi ke Partai Demokrat.

Sementara itu, lanjut Burhan, kubu militer di internal Demokrat ditenggarai tengah menata barisan untuk mengusung Menko Polkam Djoko Suyanto sebagai capres. Djoko yang mengakhiri karir kemiliterannya dengan pangkat marsekal (pur) itu adalah mantan ketua tim kampanye calon presiden SBY saat Pilpres 2009.

”Jangan lupakan juga ada faksi Andi Mallarangeng yang didukung Hartati Moordaya,” kata Burhan. Di luar itu tak bisa dilupakan Marzuki Alie, mantan rival Anas Urbaningrum yang cukup mendapat dukungan signifikan dari daerah saat kongres lalu.

Dalam catatan Burhan, semua kandidat capres dari Demokrat yang sudah muncul ke ruang publik memiliki celah kekurangan. Anas Urbaningrum yang sangat berpotensi sekalipun sebenarnya tidak mendapatkan dukungan dari SBY saat kongres. ”Anas bukan anak emas SBY. Mantan Ketum PB HMI itu terpilih di luar kontrol SBY,” katanya.

Kans Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Marzuki Alie untuk menjadi capres juga kecil. Performa Marzuki dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPR selama setahun ini tidak terlalu baik. Karena itu, Marzuki belum muncul sebagai sosok dengan magnet electoral yang cukup tinggi.

”Usianya pun terlalu senior untuk menjual spirit muda yang menjadi ciri khas Demokrat, terutama sejak kongres,” ujar Burhan. Marzuki yang dilahirkan di Palembang, 6 November, segera menginjak usia ke-55. Pada 2014, usia Marzuki sudah 59 tahun.

Burhan menambahkan, peluang Djoko Suyanto tidak sebesar yang dibayangkan banyak orang. Salah satu faktor yang utamanya adalah Djoko tidak mau masuk kepengurusan Partai Demokrat secara formal. Padahal, itu penting untuk mendapatkan dukungan internal.

”Peluang Djoko Suyanto sangat ditentukan SBY. Kalau SBY merasa dari calon yang tersedia, seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng, tidak cukup mewadahi kepentingan politik dinasti Yudhoyono, bisa saja Djoko Suyanto muncul,” jelasnya. Apakah itu berarti harus ada calon dari luar Demokrat? (pri/dyn/c4/tof)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: